mine

mine

TOTAL EDAR MEMBAHANA

*

KEHIDUPAN

tidak perlu malu menuntut ilmu hingga di hari tua karena kehidupan adalah pintar membaca peluang

GIVE AND TAKE

beri dahulu dengan ikhlas baru bisa menuai hakmu.

KETAKUTAN TERBESAR

adalah saat berbicara dan arti setiap kata yang kau keluarkan.

LIFE LIKE CANDLE

hiduplah seperti lilin yang mau berkorban demi orang lain.

MENGAPA KEJU

karena memiliki berbagai rasa asem, manis, gurih, seperti kehidupan.

Sabtu, 21 April 2012

Gallery









About Us


Blog ini berdiri sejak 21 April 2012, oleh Gandari yang gak lain adalah "Ekek" alias AKU...hahhahaha
mengenyam pendidikan Public Relations di Prisma Profesional




karena Hobiq Travelling, Adventure dan beberapa olahraga pria, membuatku terdorong menulis Blog ini, Sumbernya gak karyaq sendiri sieh.. :)
Tapi dari sumber lain, cuma paling tidak kuberi sourcenya, jadi tak duplicate..hehehehe (Maaf ya, tapi ada nama penulisnya kuq)




tergabung di beberapa paguyuban Duta Wisata membuatku semakin mantab untuk membuat blog ini dan bisa share dengan yang lain.
jangan lupa join FBQ ya di : www....................

Testimonial



 Blog ini sangatlah membantu aku yang penyuka makan.. asekkkkk... !!! :)
soalnya aku dan keluarga tiap weekend pasti adventure dan kuliner. Warna-Warni Nusantara T.O.P BGT!!








Banyak sekali Kuliner baru yang gak aku tahu, karena Warna - Warni Nusantara aku jadi gak buta Kuliner ... :)






baru blog ini deh aku merasa dapat informasi tentang makanan lengkap banget.... :D :D






Lanjutkan corat-coretnya ya :)
informasinya lengkap banget :)

Lezatnya Menyantap “Lem” dan “Kayu” Khas Papua


Begitu membaca thema yang ditetapkan Kompasiana Freez tentang kuliner unik, saya langsung teringat dengan makanan khas Papua dan Maluku. Makanan tersebut merupakan makanan kegemaran saya di masa kecil saya di sana sampai pada waktu saya harus pindah ke Bandung untuk kuliah. Sekarang, sudah sangat jarang menyantapnya. Kecuali mendapat kiriman dari Fakfak, Papua.
Mulai dari proses pembuatannya, bentuk, tekstur, dan rasanya makanan ini memang sangat unik. Makanan yang saya maksudkan itu ada dua. Namanya Papeda dan Sagu.
Bentuk, tekstur, dan rasa papeda sangat unik. Karena wujudnya yang lembek itu benar-benar seperti lem yang biasanya dipakai di kantor-kantor pos. Sedangkan sagu adalah sebaliknya, berbentuk batangan-batangan pendek sekitar 10 cm dan sangat keras. Sekeras kayu!
Lalu, bagaimana caranya mengkonsumsi “lem” dan “kayu” ini?
Papeda dan sagu terbuat dari tepung sagu yang diambil dari pohon sagu yang banyak tumbuh di Papua dan Maluku. Baik yang tumbuh secara liar, maupun yang dibudidayakan (secara tradisional). Bahan yang menjadi tepung sagu itu diambil dengan cara menokok batang pohonnya.
Bonggol yang berasal dari batang pohon itu diperas untuk diambil saripatinya. Saripati inilah yang kemudian menjadi tepung sagu yang siap diolah menjadi beraneka macam bahan kue dan makanan. Di Papua yang paling terkenal secara tradisional adalah dua macam makanan yang saya sebutkan di atas.
Saripati yang telah menjadi tepung sagu itu disimpan di wadah-wadah yang terbuat dari dedaunan kering, yang disebut tumang. Tumang-tumang berisi tepung sagu ini disimpan di tempat yang kering dan bersuhu hangat (tidak lembab).

Papeda
Untuk membuat papeda tepung sagu diambil secukupnya, diletakkan di dalam sebuah wadah kemudian disiram dengan air panas mendidih sambil diaduk sampai berwujud lembek seperti lem.Untuk mengkonsumsinya biasanya ditemani dengan ikan masak kuah kuning, yang dinamai ikan baretang.
Pertama-tama kuah ikan ditaruh di dalam piring, kemudian papeda diambil dengan cara menggunakan dua buah garpu atau sumpit sambil diputar-putar agar bisa terambil sebanyak yang diinginkan. Lalu, ditaruh di dalam piring yang sudah ada kuah ikan baretangnya itu. Selain untuk dikonsumsi bersama papeda, kuah ikan ini juga berfungsi supaya papeda tidak lengket di piring.
Agar cita rasanya bertambah, dan ada asupan protein dan gizi yang cukup, maka sebaiknya ditambah dengan ikan baretangnya dan sayur. Sayur yang paling pas untuk ini adalah kangkung tumis.
Cara makannya jangan dengan disendok seperti menyendok nasi, tetapi dengan cara sedikit menyedotnya bersama dengan kuah ikannya ke dalam mulut. Terus langsung ditelan. Tidak perlu dikunyah.
Untuk membuat ikan baretang, berikut resepnya singkatnya:
Jenis ikan yang dipakai yang paling cocok adalah kakap merah, mubara, tongkol,  atau ikan kembung. Bagi yang suka, resep ikan baretang ini bisa dibuat dari kepala ikan kakap.
Lumuri ikan yang telah dipotong-potong dengan air jeruk dan garam. Diamkan sebenatr supaya meresep.
Bumbunya: bawang merah, bawang putih, sereh, kunyit, lengkuas, jahe, cabe keriting, cabe kecil (kalau mau pedas). Semua bahan ini dihaluskan. Ditumis sampai berbau harum. Masukkan ikan. Tambahkan garam, vetsin, gula, tomat (dipotong-potong), daun jeruk (2 lembar). Kalau suka asam ditambah air jeruk nipis, atau air asam Jawa.
Sagu
Cara membuat sagu adalah dengan menempatkan tepung sagu di dalam cetakannya. Umumnya berbetuk batang-batangan dengan panjang sekitar 10 cm, diameter sekitar 3 cm. Setelah itu dibakar di atas api menyala sampai benar-benar kering dan keras. Kemudian dikeluarkan dari wadahnya. Didinginkan. Siap disantap.
Siap disantap, bukan berarti Anda bisa langsung mengigit dan mengunyahnya. Karena itu tak mungkin bisa Anda lakukan, atau gigi Anda yang malah patah. Saking kerasnya sagu ini. Untuk mengkonsumsinya ada caranya. Yakni harus terlebih dahulu dicelupkan/direndam sebentar ke dalam air minum, teh manis hangat, atau kopi. Dicelupkan sebentar sampai menjadi agak lunak dan bisa digigit/dikunyah. Jangan terlalu lama, karena akan menjadi terlalu lembek dan rasanya menjadi tidak enak.
Berbicara tentang rasa, rasa sagu ini adalah hambar. Apalagi kalau yang digunakan untuk mencelupkannya itu hanyalah air minum biasa saja. Kalau menggunakan teh manis dan kopi tentu saja ada rasa teh dan kopi itu. Tetapi ini tidaklah cukup untuk bisa benar-benar menikmati lezatnya sagu. Harus ditemani dengan lauk khusus yang paling cocok dengan sagu. Yang bukan lain adalah ikan bakar dicelup sambal kecap. Rasanya benar-benar unik dan sangat lezat.
Salah satu hiburan di Papua adalah dengan memancing atau menjaring ikan yang begitu melimpah di laut Papua, dan/atau piknik ke pulau-pulau kosong. Sewaktu saya masih tinggal di Fakfak, pulau favorit sebagai tempat liburan keluarga adalah piknik ke sebuah pulau kosong. Kami biasa menggunakan perahu berkapasitas 10-15 orang, dilengkapi motor tempel 80PK, lama perjalanan  sekitar 1/2 - 1   jam dari Fakfak. Namanya Pulau Ega, terletak di sebelah barat Pulau Panjang.
Biasanya, dari rumah berangkat sekitar pukul 5-6 pagi. Bekal yang dibawa hanyalah sagu, dengan sedikit nasi putih, dan minuman. Tidak ada lauk-pauknya. Lauk pauknya nanti diambil dari dalam laut, yaitu ikan.
Sampai di pulau Ega,  para perempuan, ibu-ibu dan anak-anak diturunkan. Kaum perempuan mengurus anak-anak, anak-anak bermain pasir dan berenang di pantai. Kaum laki-laki, bapak-bapaknya kemudian melaut. Ada yang menjaring ikan yang lokasinya hanya beberapa ratus meter dari pulau. Ada juga yang pergi memancing di laut dalam. Lokasinya cukup jauh dari pulau. Biasanya di lokasi di mana pulau-pulau sudah tidak kelihatan lagi. Air lautnya berwarna biru atau hitam, menunjukkan kedalamannya.

SOP KONRO - SULAWESI

Satu lagi makanan khas Makassar yang terkenal dengan kelezatannya adalah Sop Konro.Hidangan tradisional dari Kota Anging Mamiri ini berbahan dasar daging sapi.Tapi daging sapi yang digunakan adalah khusus dari bagian rusuknya saja.
Setelah direbus, tekstur daging yang masih melekat pada tulang rusuk itu akan terasa lebih lembut. Kaldu dari hasil rebusan daging kemudian diracik dengan bumbu-bumbu, diantaranya merica, lengkuas, jintan, sereh, kaloa, cabai, bawang merah, dan bawang putih. Sementara daging yang sudah direbus dimasak lagi secara terpisah.
Satu porsi Sop Konro biasanya terdiri dari empat ruas tulang rusuk yang masih dilekati oleh gumpalan daging sapi, yang disajikan bersama kaldu kental yang sudah diracik dengan bumbu-bumbu. Hidangan utama ini biasanya disajikan bersama nasi putih dan sambal. Makanan ini bisa didapati di Jl. Ratulangi, dengan harga per porsi sekitar Rp 24.000.(Indonesiakaya/Tim Indonesia Exlporide)

Wisata Kuliner Sumatera-Jawa di Pondok Kenko

Bisnis resto dan cafe makin menjamur di Kota Jambi. Kehadiran tempat makan itu tentu menambah variasi masakan di Kota Tanah Pilih Pesako Betuah ini. Dengan begitu, semakin mempermudah peminat kuniler untuk menikmati berbagai masakan Nusantara.
Baru-baru ini hadir sebuah tempat makan baru, Pondok Kenko. Berada di Jalan H Juanda No 57, Mayang Mangurai, tempat makan itu menyediakan berbagai macam masakan dari Sumatera hingga Jawa.
Konsep tempat masakan itu adalah pemondokan. Terdapat sembilan pondok. Pondok-pondok itu dibangun dengan konsep perkampungan. Atap pondok dari daun nipah serta tiang-tiang ukiran kayu yang minimalis, seakan berada dalam pedesaan yang begitu alami dengan hawa yang sejuk.
Meski baru dibuka seminggu lalu, antusiasme pengunjung cukup baik. “Mulai kita buka, pengunjung sudah ramai,” kata pengelola Pondok Kenko, Talip.
Menurut Talip, menu yang paling banyak digemari adalah masakan dari Medan, seperti soto medan, kerang rebus, dan masakan lainnya. “Kalau soto di tempat lain mungkin banyak, soto medan punya ciri khas tersendiri. Di Jambi jarang ada,” katanya.
Soto medan memang berbeda dari soto kebanyakan di Jambi. Kuahnya terbuat dari santan ditambah rempah-rempah serta bumbu khusus. Satu porsi soto itu biasanya disajikan dengan satu mangkuk nasi serta beberapa jenis sayuran seperti wortel, tauge, dan sayur lainnya.
Menu yang juga digemari di sana adalah kerang rebus ala Medan. Anda yang penah ke daerah itu tentu sering melihat tempat makan yang menyediakan kerang rebus. Kerang rebus ala Medan disediakan dalam keadaan panas. Kemudian kerang diambil isinya dan dimakan dengan mencelupkan ke dalam sambal. Soal rasa, jangan ditanya. Enak kali, begitu istilah orang Medan.
Harga cukup terjangkau, mulai Rp 10 ribu-Rp 25 ribu. “Harga standarlah, tidak jauh beda dari tempat lain,” kata Talip.
Batal Diet demi Kerang Rebus Selera tiap orang tentu berbeda. Namun menu satu ini menjadi idola para pengunjung, bahkan bagi yang sedang diet sekalipun. Begitu mencicipi kerang rebus ala Medan, diet langsung batal alias tidak bisa menahan selera.
Salah satu pengunjung, Rahimah Handayani, mengakuinya. Menurut dia, menu yang disediakan di Pondok Kenko cukup menggugah selera. Terutama kerang rebus yang disajikan dalam keadaan panas ditambah sambal khas. Itu yang membuat Rahimah yang sedang berdiet, langsung berselera dan lahap menikmati kerang rebus.
Selain itu, kata Anda, panggilan Rahimah, tempat itu menghadirkan suasana perkampungan ditambah udara sejuk. “Apalagi malam, makan kerang yang lagi panas akan terasa nikmat dan bisa menghangatkan badan,” katanya.
Bukan hanya Anda, pengunjung lain juga mengakuinya. Benni, salah satu pengunjung, juga memuji nikmatnya kerang rebus ala Medan itu. Menurut Benni, kerang rebus ala Medan tergolong jarang di Kota Jambi. Begitu dia tahu di Pondok Kenko disediakan kerang rebus, dia langsung datang ke tempat itu.
Soal harga, kata Benni, cukup terjangkau. “Ya murahlah, ga begitu mahal,” katanya.(wra)


source : http://www.jambi-independent.co.id/jio/index.php?option=com_content&view=article&id=5496:wisata-kuliner-sumatera-jawa-di-pondok-kenko&catid=14:kuliner

WARNA-WARNI JAWA TENGAH

Berikut adalah makanan khas yang terdapat di Jawa Tengah, menurut kabupaten/kota:
  • Purwodadi: swikee, nasi becek, kecap, sale pisang
  • Banjarnegara: dawet ayu, buntil
  • Semarang: Lunpia/lumpia, soto ayam, sate sapi, bandeng presto, nasi goreng babat, ayam goreng kraton tulang lunak, kue-kue pia, sate kambing bumbu kecap, martabak malabar, kue bandung, tahu petis, tahu gimbal, wingko babat
  • Boyolali: marning (jagung goreng), paru goreng, brem cap suling gading, krupuk rambak
  • Blora: Sega Pecel, sate ayam blora, soto ayam blora, tahu campur
  • Brebes: telor asin, sate kambing (di Tanjung. Brebes hingga kini dikenal sebagai sentra penghasil bawang merah
  • Demak: nasi garang asem, sambel blimbing wuluh, kwaci (Demak pernah terkenal sebagai sentra penghasil semangka)
  • Jepara: es gempol (es pleret), rondo royal (tape goreng), klenyem (ketela parut goreng isi gula merah), kuluban (urap: nangka muda, kacang panjang dan daun mudanya, tauge/kecambah mentah, buah petai cina mentah), pecel ikan laut bakar dengan sambal santan kelapa, sate udang, terasi jepara, tempong (blenyik) ikan teri, durian petruk
  • Klaten: ayam goreng kalasan, bebek goreng, emping mlinjo
  • Kudus: soto ayam, sate kerbau, lentog, dodol, jenang kudus, madu mongso
  • Pati: nasi gandul, sate ayam,
  • Pekalongan: nasi gandul, soto tauco (tauto), nasi megono
  • Pemalang: nasi grombyang, lontong dekem, sate loso
  • Purwokerto: tempe mendoan, gethuk goreng, soto sokaraja / sroto sokaraja, nopia
  • Purworejo: kue lompong, clorot (semacam dodol yang dibungkus daun kelapa secara memilin), gebleg (baca ge- seperti e pada kata senang dan -bleg seperti e pada kata becek), kue satu, dawet hitam, lanting
  • Purbalingga: rujak kangkung, tahu gecot, soto kriyik, es duren, klanting
  • Rembang: bandeng duri lunak (di Juwana), sirup kawis-ta
  • Salatiga: bakso urat, bakso babat, kripik paru, ting-ting gepuk
  • Solo: gudeg, sate kambing, thengkleng, srabi solo, nasi liwet, timlo solo, racikan salat, krupuk karak/gendar, bakso popular ukuran bola golf, tahu acar, sayur tumpang
  • Sragen: nasi garang asem, sate sragen,
  • Sukoharjo: welut goreng
  • Tegal: “teh poci” (teh yang diseduh dalam poci tanah liat kecil dan diminum dengan gula batu), sate tegal (sate kambing muda khas Tegal), sate bebek majir, pilus, krupuk antor, nasi bogana (nasi megono), Sauto (soto ayam/babat khas Tegal dengan bumbu tauco). Tegal hingga saat ini dikenal sebagai sentra penghasil teh.
  • Wonogiri: gaplek, tiwul
  • Wonosobo: mie ongklok, sagon, tempe kemul, geblek, wedang ronde, manisan carica, keripik jamur, dendeng gepuk
  • Ungaran: tahu baxo, sate kempleng, krupuk bakar